MARILAH KITA MENJADI BERKAT MELALUI INTERNET, KIRIMKAN TULISAN ANDA YANG MEMBANGKITKAN IMAN, MEMULIHKAN, MEMBAWA JIWA & PERTOBATAN KEPADA TUHAN.

Rabu, 14 September 2011

Budaya Nias di Tengah Perkembangan Zaman



Oleh: Fikar Gea
Budaya merupakan nilai-nilai luhur peninggalan leluhur yang telah bertahan selama berabad-abad menjadi aturan-aturan, norma-norma atau adat istiadat yang dilakukan oleh masyarakat dan generasi berikutnya secara turun-temurun. Tentu saja begitu juga dengan Budaya Nias, bahwa budaya yang dimiliki saat ini merupakan nilai-nilai yang diturunkan oleh nenek moyang, yang telah menjadi falsafah, cara berpikir, tujuan dan cita-cita yang dimiliki, dipilih dan dipelihara. Semuanya itu memang nyata dan telah terukir dalam sejarah. Yang menjadi pertanyaannya ialah seberapa besar relevansi budaya itu terhadap keberadaan zaman sekarang ini?
Budaya memiliki sifat yang dinamis atau tidak statis. Artinya bahwa budaya itu tidak selamanya tetap dipertahankan sebagaimana originalnya. Budaya bisa saja berubah, apa itu ditinggalkan, dipertahankan, dikembangkan bahkan juga diadopsi. Kondisi ini terutama untuk budaya abstrak dan aktifitas. Budaya yang besar ialah budaya dimana bisa bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan zamannya, hingga mencapai suatu puncak peradaban tertentu. Mungkin budaya kita sudah mencapai puncak kejayaannya dulu, lalu bagaimana sekarang? Berikut ini akan dibahas sedikit tentang budaya kita yang perlu ditinggalkan, dipertahankan dan bagaimana budaya sebagai filter perubahan zaman.  
Dr. Antie Solaiman, MA (seorang pemerhati Nias di Jakarta), dalam sebuah seminar Capacity Building of Nias, menyatakan bahwa secara keseluruhan budaya Nias itu baik adanya. Akan tetapi salah satu yang dilihatnya kurang baik ialah sistem demokrasinya. Dalam pertemuan-pertemuan di Nias, baik pertemuan adat atau jika ada persekutuan; pendapat, ide atau gagasan-gagasan perempuan diabaikan. Penolakan dilakukan dengan seketika tanpa mempertimbangkan nilai positif dari pendapat itu. Saya juga berpikir bahwa itu terjadi di Nias di daerah kita, karena pandangan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat kita bahwa wanita itu ialah bagaikan barang, sehingga menyebutnya “Bőli Gana’a.”  Hal itu membuat hak-hak wanita diabaikan, wanita hanya berperan sebagai pembantu suami dan sebagai pelengkap saja. Sebaiknya kita meninggalkan kebiasaan itu.
Selain itu, kebiasaan buruk yang sering terjadi di Nias ialah budaya menjatuhkan orang lain (fadőni ahe). Sikap mental dan cara berpikir seperti itu masih kental dalam kehidupan orang Nias. Ketika orang lain mulai maju atau sedikit mengalami keberhasilan, maka pasti ada banyak orang di sekitarnya yang tidak senang. Hal ini sering terjadi di lingkungan pemerintahan. Ketika seseorang sukses dan karirnya mulai menanjak, ada saja orang yang mau menjatuhkan. Dituduh yang nggak-nggak, difitnah, dibenci dan lain sebagainya yang tujuannya untuk menjatuhkan. Dan yang lebih tragis lagi ialah di daerah-daerah yang jauh dari kota, menjatuhkan orang itu dengan menggunakan kekuatan-kekuatan magis (di Nias masih banyak berkembang). Betapa damainya kehidupan di Nias jika tidak ada kebiasaan buruk ini.
Yang lainnya yang perlu kita hindari ialah menyangkut masalah penokohan. Orang Nias kita akui jiwa kepemimpinannya itu sangat menonjol. Akan tetapi kebanyakan orang Nias itu mau disanjung-sanjung, dipuji-puji dan kepingin untuk menjadi penguasa. Orang Nias itu sukanya jika dipanggil sebagai tokoh, ketua, pembina, penasehat atau yang lainnya. Kebiasaannya ini sering menimbulkan perpecahan kelompok. Karena kurangnya kapasitas itu, sehingga untuk memenuhi nafsu itu hanya dengan hengkang dari kelompok itu dan membuat kelompok/organisasi lain yang bisa manampungnya. Hal ini sering kita temukan di perkumpulan-perkumpulan orang Nias baik di Nias, luar Nias maupun dalam kehidupan bergereja. Ada baiknya kita memahami bahwa kekuasaan/kepemimpinan itu berasal dari Tuhan sebagai amanah bukan karna nafsu/keserakahan manusia.
Mungkin masih ada lagi yang perlu ditinggalkan di budaya kita, akan tetapi sedikitnya yang tiga ini membuat perubahan terhadap cara berpikir kita. Karena zaman sekarang tidak menuntut hal-hal seperti ini malah sebaiknya dibuang.
Tentunya ada nilai-nilai budaya kita yang perlu kita kembangkan dan harus dipertahankan. Dalam kebudayaan kita begitu banyak hal-hal yang baik yang bisa dibina dan dijalani oleh setiap masyarakat. Kadang kita lupa akan hal-hal yang sebenarnya bisa membantu kita dalam membangun Nias di masa depan. Jangan kebiasaan buruk lebih dominan dari pada kebiasaan-kebiasaan baik. Kebiasaan-kebiasaan yang perlu kita bina yang selama ini tertunda yakni; semangat Fabanuasa, semangat Falulusa dan semangat fa’ohe tanga.
Semangat Fabanusa
Semangat fabanusa ini lebih kepada semangat untuk bekerja sama. Hidup dengan kerjasama atau membantu masyarakatnya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban. Keberadaan Nias saat ini di tengah perkembangan dan perubahan zaman masih jauh dari apa yang kita cita-citakan, lebih-lebih pasca gempa yang menghancurkan dan meluluhlantakkan Nias.
Dalam rangka membangun Nias kembali, sangat dibutuhkan kerjasama yang baik, membangun Nias yang sudah hancur tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Pemerintah, masyarakat, LSM, Ornop (NGO) harus menjadi satu tim yang solid, bekerja sama dalam membangun kembali Nias. Semangat Fabanusa ini sangat besar dampaknya jika penerapannya benar. Fabanusa ini mengharapkan adanya kesatuan hati, merasa memiliki, merasa sebagai milik bersama dan untuk kepentingan bersama. Jika sesuatu dilakukan dengan semangat ini maka pembangunan di Nias dapat terwujud.
Mungkin sekaligus untuk mengoreksi kinerja BRR yang sedang melakukan aktifitas rekonstruksi Nias saat ini. begitu banyak proyek yang tidak memuaskan rakyat (contoh, banyak perumahan yang ditolak di Lahewa karena tidak layak pakai (Media Indonesia, Desember 2006). Sebenarnya mengapa kita harus setengah-setengah hati melakukan proyek itu, sementara jumlah orang Nias yang duduk di BR begitu banyak. Dimana semangat Fabanusa kita?
Semangat Falulusa (gotong royong)
Nias saat ini masih di bawah tekanan, karena kondisi perekonomian yang belum membaik. Dampak dari kondisi ini sangat besar bagi sebagian besar penduduk kita di Nias. Banyak orang yang tidak bisa bertahan atau berada di bawah standar hidup yang layak. Tanggung jawab siapakah ini semua?
Tentunya tanggung jawab kita, semangat falulusa ialah solusi yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. Di tengah-tengah kondisi masyarakat yang masih labil, kita dituntut untuk bisa mengatasi semua masalah ini secara bersama-sama dengan bergotong royong, mari kita membantu saudara kita yang masih belum mampu memperbaiki taraf penghidupannya supaya layak. Jadi, yang sangat diperlukan di Nias saat ini ialah bagaimana seseorang mampu merasakan apa yang dirasakan oleh saudara yang lain.
Pepatah Nias mengatakan: Kauko ba hili Ta’uli ba ndraso öfaolo ndra’ugö,  ba ufaolo göi ndra’o. Walaupun posisi kita saat ini berada dipuncak, kita semuanya juga mengerti keadaan orang yang sedang melarat di bawah kita. Membantu orang-orang yang sedang melarat ini membutuhkan semangat gotong royong, hati nurani, kasih dan tenggang rasa. Saya pinjam pernyataan seorang pendeta di Nias melengkapi pepatah di atas, “Kauko ba hili Ta’uli ba ndraso ö faolo ndra’ugö ba ufaolo göi ndra’o ba gahe röfa Keriso. Dengan kasih Kristus, pasti segalanya itu akan tercapai.
Semangat fa’ohe tanga
Mari kita menumbuh kembangkan semagat fa’ohe tanga di Nias. Semangat ini sering mati karena ditindas oleh kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Semangat fa’ohe tanga ini sebenarnya sangat besar dampaknya dalam membangun Nias. Saling berpegang tangan dan saling menopang itulah arti fa’ohe tanga. Dengan kita berpegang tangan dan saling menopang maka kita tidak akan bisa digoyahkan, tidak bisa diombang-ambingkan melainkan kokoh, berdiri tegak. Mari kita wujudkan semangat ini untuk masa depan Nias di masa yang akan datang. Nias yang kuat, kokoh, besar dan makmur tentunya.
Lalu bagaimana kekuatan budaya kita di tengah perkembangan zaman? Apakah budaya kita sudah mampu menjadi sebagai filter untuk menghadapi dunia luar dan mampu menentukan apa yang perlu diperhatikan atau dihindari.
Perkembangan zaman ditandai dengan makin canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Menyebar dengan begitu pesatnya sampai kepelosok-pelosok. Baik itu melalui TV, radio, maupun internet. Begitu banyaknya informasi dari luar dengan berbagai latar budaya. Apa yang terjadi jika kekuatan budaya kita tidak mampu menjadi filter terhadap berbagai informasi itu?
Jika budaya kita tidak mampu menjadi filter terhadap berbagai informasi itu maka tentu saja semua informasi itu ditelan mentah-mentah dan akan menghancurkan nilai-nilai yang baik yang sudah ada. Dengan menampung informasi tanpa filterisasi menggambarkan satu informasi yang rusak atau kacau karena tidak akan mampu menangani segala informasi yang masuk. Akibat bebasnya informasi ini sangat besar pengaruhnya cara berpikir kita, cara berbusana, perilaku dan lain-lain.
Kita tidak mungkin menyangkal bahwa ada banyak keuntungan atau nilai positif dari teknologi. Menambah wawasan kita untuk mengenal dunia secara universal, kita beroreintasi pada teknologi  serta penyampaian informasi yang begitu cepat. Namun di balik itu begitu banyak nilai-nilai buruk yang ditimbulkannya. Seks dan pornografi yang bebas dan privasi yang tidak terjamin lagi.
Betapa buruknya citra budaya kita jika dampak negatif ini telah merambah di Nias. Betapa jeleknya Nias itu di mata dunia yang mengklaim bahwa Nias adalah pulau indah dan damai. Karena itu mari kita memanfaatkan budaya kita sebagai filter dan Screening (melindungi system saraf manusia dari kejenuhan informasi). Mari kita menerima informasi dari luar lewat media komunikasi dengan memprediksi dan menyaring lebih dahulu melalui budaya kita. Mungkin diterima, ditolak atau hanya sebatas penambah wawasan saja. Saya yakin nilai-nilai luhur budaya kita akan tetap terjamin keadaannya dengan cara berpikir kita yang baik dan bernuansa global.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih untuk Komentar Anda yang membangun, Semoga menjadi berkat bagi kita semua... Amin. GBU